D3 RIAS KECANTIKAN FT UNY GELAR PROYEK AKHIR 5 CERITA RAKYAT DALAM 20 EPISODE
Hari sabtu mendatang, tanggal 23 Mei 2009, jam 18.00-23.00, di Gedung BIMO Kotabaru Yogyakarta, tepatnya didepan Masjid Syuhada, akan digelar 5 cerita rakyat yang konon diangkat dari Sejarah atau Legenda yang sangat dekat dengan masyarakat Yogyakarta. Pagelaran perdana D3 Rias Kecantikan FT-UNY angkatan pertama ini akan diikuti oleh 20 mahasiswi, dimana setiap mahasiswa menterjemahkan 1 episode dengan berbagai macam variasinya.
Candi Prambanan merupakan candi tercantik di Indonesia, dipilih kelompok pertama mahasiswi Rias Kecantikan dengan cerita yang melegenda “ Roro Jonggrang”. 4 mahasiswi akan mengemas ”Roro Jonggrang” dalam 4 babak, yang didukung oleh 23 pemain. Ada 4 jin dan 2 burung bangau yang diperankan oleh 6 siswa SD Deresan, menyatakan siap dan tidak malu diatas panggung nanti. Babak pertama menampilkan Kerajaan Boko dengan tokoh sentralnya Ratu Boko dan Roro Jonggrang. Penolakan cinta Roro Joggrang dikemas apik pada babak kedua, dengan munculnya Bandung Bondowoso. Babak ketiga mengembangkan asik masyuknya percintaan Rr Jonggrang dan Bandung Bondowoso ditepian malam yang sunyi. Arca ke 1000 babak paling dramatis dari lakon ini, dengan diubahnya Jonggrang menjadi patung keseribu.
Ande-ande Lumut menjadi cerita rakyat yang dipilih kelompok kedua. Keempat mahasiswi menggarap lakon ini dalam 4 babak pula...............
Kisah cinta Romeo dan Yuliet Indonesia, digarap kompak oleh 4 mahasiswi kelompok ke 3 dengan mengusung lakon abadi ” Roro Mendhut dan Pronocitro. Babak pertama, dengan tampilan 6 penari energik, mengisahkan kebebasan masa remaja Roro Mendhut dan sahabatnya Genduk Dhuku sewaktu tinggal di Pati. Ditaklukannya tlatah Pati Jawa Timur oleh Mataram, dikemas amat dramatik pada babak kedua kisah cinta Roro Mendhut sebagai putri Boyongan yang terlibat cinta segitiga. Disusul babak ketiga tentang perjuangan Roro Mendhut ”Ngupoyo srono” sebagai konsekuensi penolakan cinta Mendhut pada Tumenggung Wiroguna. Adegan paling tragis dibabak keempat menggambarkan seorang Roro Mendhut yang rela turun dari tandu kemegahan, kemewahan, keagungan dan keanggunan wanita, demi cinta sejatinya pada sang Pekatik Kuda ”Pronocitro”. Ending tragis cinta sejati yang tumpes oleh keris sang Tumenggung Wiroguna.