KULON PROGO – Selama pelaksanaan Praktik Kependidikan (PK) pada Juli hingga September 2026, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta, Achmad Sendy, melaksanakan serangkaian pembelajaran Pemrograman Sistem Embedded bagi peserta didik kelas XI Teknik Elektronika Industri 1 di SMK Negeri 2 Pengasih, Kabupaten Kulon Progo. Dalam salah satu pertemuan, peserta didik belajar menggunakan perangkat lunak Arduino IDE serta memanfaatkan software simulasi Wokwi dan Proteus sebelum menerapkan program pada mikrokontroler yang sesungguhnya. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa dalam pemrograman mikrokontroler sekaligus mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Pembelajaran tersebut dirancang untuk membekali siswa dengan pemahaman dasar mengenai instalasi dan pengoperasian Arduino IDE, sebelum program yang mereka buat diunggah ke perangkat keras. Pembelajaran diawali dengan penjelasan mengenai fungsi menu Arduino IDE, seperti Verify, Upload, dan Serial Monitor, serta struktur dasar program void setup() dan void loop(). Setelah memahami dasar tersebut, siswa mempraktikkan pembuatan simulasi rangkaian LED menggunakan Wokwi secara daring dan Proteus secara luring, sebelum program yang sama diterapkan pada rangkaian LED nyata di board Arduino Uno. Dalam proses praktik, simulasi dimanfaatkan untuk menguji apakah program dan rangkaian sudah berjalan sesuai harapan, sehingga kesalahan dapat diperbaiki lebih dulu sebelum diterapkan pada perangkat keras yang sebenarnya. Meskipun demikian, siswa tetap diarahkan untuk merangkai, menguji, dan memperbaiki program secara mandiri.
Melalui kegiatan ini, siswa memperoleh pengalaman langsung dalam menguji dan menerapkan program mikrokontroler, mulai dari tahap simulasi hingga praktik pada rangkaian LED lampu lalu lintas yang nyata. Kebiasaan menguji program melalui simulasi sebelum diterapkan pada
perangkat keras juga melatih siswa untuk berpikir sistematis dalam memecahkan masalah. Kegiatan ini mendukung Target 4.4 SDGs, yaitu meningkatkan jumlah generasi muda yang memiliki keterampilan teknis dan vokasional untuk memasuki dunia kerja maupun mengembangkan kreativitas dan kewirausahaan. Selain itu, kegiatan ini berkontribusi terhadap SDG 9 melalui penguatan literasi teknologi, keterampilan pemrograman, dan kemampuan menerapkan solusi digital secara aplikatif. Siswa tidak lagi hanya menjalankan program yang sudah jadi, tetapi mulai memahami proses pengujian dan penerapan program mikrokontroler dari tahap simulasi hingga perangkat keras.
Pembelajaran pemrograman mikrokontroler berbasis simulasi ini diharapkan dapat dilanjutkan melalui materi dan proyek lanjutan, seperti pemrograman sensor dan aktuator lain maupun proyek sistem embedded yang lebih kompleks. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, siswa diharapkan mampu menggunakan software simulasi sebagai alat bantu belajar sebelum praktik hardware, bukan sekadar tahap tambahan. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk menumbuhkan ketelitian, kemampuan memecahkan masalah, kemandirian belajar, dan kesiapan siswa dalam menghadapi perkembangan teknologi di dunia pendidikan maupun dunia kerja.