Pelatihan up-grading produk dan kemasan pathilo oleh tim dosen Fakultas Teknik UNY di Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul

Kapanewon Tanjungsari merupakan salah satu kapanewon di Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu tanaman pertanian di Kapanewon Tanjungsari adalah singkong atau ubi kayu. Luas tanaman singkong di Kapanewon Tanjungsari pada tahun 2020 sebesar 2.300 hektar atau 5,24% dari total luas tanaman singkong di Kabupaten Gunungkidul (seluas 43.855 hektar). Produksi singkong yang dihasilkan rata-rata mencapai 170-200 kuintal per hektar (https://gunungkidulkab.bps.go.id/indicator/53/65/1/luas-panen-tanaman-palawija.html). Singkong ini diolah oleh masyarakat setempat menjadi berbagai produk seperti gaplek, tiwul, mocaf, tepung singkong, pathilo, krecek, dan sebagainya.

Untuk menunjang sektor pariwisata dan perekonomian di Kapanewon Tanjungsari, maka perlu dilakukan pengembangan produk makanan khas dengan menggunakan bahan baku hasil pertanian setempat. Salah satu produk makanan khas dari Kapanewon Tanjungsari yang menggunakan bahan baku singkong adalah pathilo. Pathilo adalah makanan ringan khas Gunung Kidul yang mirip rengginang beras ketan, namun dibuat dari singkong, berbentuk bulat, berwarna putih, rasa gurih, renyah, dan gurih setelah digoreng. Proses pembuatan pathilo dimulai dari singkong dikupas dan dicuci, selanjutnya diparut dan diperas. Ampas parutan singkong kemudian diperam selama 3 hari dan pati singkong yang dihasilkan dikeringkan dengan sinar matahari sampai kering. Selanjutnya ampas dan pati singkong dicampur kembali dan diberi bumbu bawang putih dan garam, lalu dikukus. Setelah itu dicetak dengan alat cetakan pathilo dan ditata di loyang, dikukus selama 10 menit, dan dijemur dengan sinar matahari sampai kering (sekitar 1-3 hari). Pathilo yang sudah kering dikemas dengan kantong plastik. Hasil olahan yang dijual berupa pathilo yang masih mentah alias belum digoreng dengan harga Rp 20.000 per kg.

Kelompok Wanita Tani (KWT) Banjar Mawar merupakan kelompok ibu-ibu pembuat pathilo di Dukuh Keruk III, Banjarejo, Kapanewon Tanjungsari. Permasalahan yang dihadapi oleh KWT Banjar Mawar antara lain pada: 1) aspek produksi: mutu bahan baku berfluktuasi, belum ada standar proses produksi pathilo, dan belum menerapkan cara produksi pangan yang baik; 2) aspek produk: ukuran dan volume pathilo bervariasi dan terlalu besar, komposisi gizi pathilo didominasi oleh karbohidrat, belum mencantumkan informasi nilai gizi, kemasan dan labeling masih sederhana dan belum sesuai dengan peraturan BPOM;  3) aspek pemasaran dan sumber daya manusia (SDM): pemasaran masih terbatas, belum mempunyai pengetahuan dan keterampilan untuk menerapkan teknologi tepat guna pada produksi dan pengemasan pathilo, higiene sanitasi, manajemen usaha, dan pemasaran (digital marketing).

Untuk mengatasi permasalahan pathilo di KWT Banjar Mawar, maka tim dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta yang terdiri dari Dr. Nani Ratnaningsih, S.T.P., M.P., Dr. Ir. Mujiyono, S.T., M.T., W.Eng., IPU., Prof. Dr. Dra. Marwanti, M.Pd., dan Titin Hera Widi Handayani, S.Pd., M.Pd. memberikan solusi berupa pendampingan untuk perbaikan dan standarisasi proses produksi pathilo, cara produksi pangan yang baik, serta perbaikan bentuk dan ukuran pathilo. Permasalahan aspek produk diatasi dengan pengujian komposisi gizi pathilo dengan analisis proksimat, penambahan varian pathilo dengan bahan ikan dan rumput laut, serta perbaikan kemasan dan labeling sesuai dengan peraturan BPOM. Permasalahan aspek pemasaran dan SDM diatasi dengan solusi penerapan teknologi tepat guna untuk produksi dan pengemasan pathilo, higiene sanitasi, dan manajemen usaha. Kegiatan pendampingan ini dibantu oleh Luthfiyyah Ariana (mahasiswa Pendidikan Tata Boga) dan Lutfi Achyar (mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin).

Pelatihan up-grading produk dan kemasan pathilo di KWT Banjar Mawar dilakukan selama bulan Juli-November 2023 di rumah Ibu Pani yang diikuti oleh 15 anggota KWT Banjar Mawar. Kegiatan pelatihan dilakukan sebanyak 8 kali yang dimulai dengan diskusi bersama ibu Ngatini selaku ketua KWT Banjar Mawar sehingga dirumuskan solusi untuk mengatasi permasalahan mitra meliputi: 1) aspek produksi: penyusunan standar operational procedures (SOP) proses produksi pathilo; 2) aspek produk:  pembuatan varian pathilo bergizi dengan bahan ikan dan rumput laut, pengujian komposisi gizi pathilo dengan analisis proksimat, serta perbaikan kemasan dan labeling sesuai dengan peraturan BPOM; dan 3) aspek pemasaran dan SDM: peningkatan pengetahuan dan keterampilan teknologi tepat guna untuk produksi dan pengemasan pathilo, higiene sanitasi, dan manajemen usaha.

Hasil kegiatan PkM ini meliputi: 1) standar operational procedures (SOP) proses produksi pathilo, 2) alat cetak pathilo berbentuk bulat (diameter 2 cm) dari fiber glass, 3) varian pathilo yang lebih bergizi dengan menggunakan daging ikan nila dan rumput laut Ulva lactuca, 4) kemasan pathilo yang lebih menarik dan sesuai dengan peraturan BPOM, dan 5) peningkatan pengetahuan dan keterampilan teknologi tepat guna untuk produksi dan pengemasan pathilo.  Di samping itu juga dihasilkan artikel ilmiah di jurnal nasional terakreditasi, video kegiatan yang diupload di YouTube pada akun Boga UNY, serta dokumen perjanjian kerja sama (Implementation of agreement) antara KWT Banjar Mawar dengan Fakutas Teknik UNY. Kemasan pathilo mentah menggunakan kantong plastic poli etilen (ketebalan 0,7 cm), sedangkan pathilo matang menggunakan standing pouch dari aluminium foil yang dilengkapi dengan zipper dan diseal rapat serta diberi label sesuai dengan Peraturan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Nomor 26 tahun 2021 sehingga menjadi lebih menarik konsumen.

Kegiatan PKM ini dapat meningkatkan branding pathilo yang lebih bergizi berbasis pangan lokal (singkong, ikan nila, dan rumput laut Ulva lactuca), memberdayakan kelompok wanita tani, dan memperluas pangsa pasar pathilo ke konsumen generasi Z. Di samping itu, juga dapat mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) Universitas Negeri Yogyakarta, khususnya IKU 2, IKU 3, dan IKU 5. Kegiatan PKM ini berkaitan dengan IKU 2 karena mahasiswa dilibatkan pada kegiatan PKM, yaitu penyusunan SOP produksi pathilo, disain alat cetak pathilo, pembuatan varian pathilo dengan substitusi ikan nila dan rumput laut Ulva lactuca, serta pembuatan disain kemasan dan labeling. Terkait dengan IKU 3, kegiatan PKM ini melibatkan dosen yang melakukan tridharma perguruan tinggi berupa pengabdian kepada masyarakat di luar kampus sesuai dengan kompetensinya. Selanjutnya terkait dengan IKU 5 karena hasil karya dosen dan mahasiswa dapat digunakan langsung oleh masyarakat, yaitu anggota KWT Banjar Mawar.