Yogyakarta — Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar program pengabdian kepada masyarakat (PkM) bertajuk "Pelatihan Pembuatan Desain Busana Digital Berbasis AI untuk Peningkatan Kompetensi Guru SMK Tata Busana di Yogyakarta". Program yang dilaksanakan tahun 2026 ini menyasar guru-guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jurusan tata busana di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan tujuan mendekatkan kompetensi mengajar mereka dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kini merambah industri fesyen.
Tim pelaksana program ini merupakan dosen Program Studi Pendidikan Tata Busana, Fakultas Teknik, UNY, yang terdiri atas Dr. Sugiyem, M.Pd. sebagai ketua, bersama tiga anggota yaitu Afif Ghurub Bestari, M.Pd., Kapti Asiatun, M.Pd., dan Anita Volintia Dewi, M.Pd.
Merespons Transformasi Digital Industri Fesyen
Program ini digagas atas dasar pengamatan bahwa industri fashion telah mengalami transformasi digital yang signifikan, sementara masih ada kesenjangan antara kompetensi guru di lapangan dengan kebutuhan industri saat ini. Sebagai lembaga yang mencetak tenaga kerja di bidang tata busana, SMK dinilai perlu merespons perubahan tersebut secara cepat dan tepat. Tim pelaksana juga mencatat bahwa program pelatihan serupa yang pernah dijalankan sebelumnya menunjukkan hasil positif, dengan 92 persen guru peserta berhasil mengimplementasikan materi pelatihan di kelas masing-masing, serta terbentuknya komunitas belajar berkelanjutan yang masih aktif hingga kini.
Melalui pelatihan ini, guru diarahkan untuk mampu membuat desain busana yang orisinil menggunakan perangkat lunak digital, mengonversi desain dua dimensi menjadi visualisasi tiga dimensi yang realistis dengan bantuan aplikasi berbasis AI, serta memahami strategi pembelajaran desain yang mengutamakan orisinalitas dan menghindari plagiarisme. Program ini juga diarahkan untuk membangun ekosistem pembelajaran berkelanjutan yang mendorong guru terus berinovasi mengikuti perkembangan teknologi, sehingga diharapkan memberi dampak jangka panjang bagi pendidikan vokasi tata busana.
Diikuti Guru dari Tujuh SMK
Kegiatan dilaksanakan dengan metode kombinasi luring dan daring. Sebanyak 10 guru dari tujuh sekolah tercatat sebagai peserta, yaitu SMKN 1 Sewon (4 guru), serta masing-masing satu guru dari SMK Diponegoro Depok, SMKS Muhammadiyah Cangkringan, SMKN 2 Gedangsari, SMKN 1 Depok, SMK Ma'arif 2 Piyungan, dan SMK Al-Munawwir Krapyak.
Secara keseluruhan, pelaksanaan program mengikuti rencana kerja sepuluh bulan: penyusunan proposal pada bulan pertama dan kedua, koordinasi dan rekrutmen peserta pada bulan ketiga dan keempat, persiapan alat dan bahan pada bulan kelima dan keenam, pelaksanaan pelatihan pada bulan ketujuh dan kedelapan, hingga evaluasi dan seminar akhir pada bulan kesembilan dan kesepuluh.
Tiga Tahap Pelatihan: dari Desain Manual hingga Konversi Berbasis AI
Secara keseluruhan, kegiatan pelatihan telah berjalan sesuai tahapan yang direncanakan dan kini telah memasuki tahap pelaksanaan inti. Rangkaian pelatihan dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan dengan pola luring, daring, dan luring, yaitu pada 11, 15, dan 19 Agustus 2026.
Pertemuan pertama berlangsung secara luring pada 11 Agustus 2026. Kegiatan diawali dengan penjelasan skenario pelatihan, dilanjutkan dengan pemaparan teori tentang penyusunan design brief dan moodboard, demonstrasi oleh tim pengabdi, hingga penugasan kepada peserta untuk membuat desain busana secara manual berdasarkan brief dan moodboard yang telah disusun masing-masing.
Pertemuan kedua dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada 15 Agustus 2026. Pada pertemuan ini, peserta mengonversi desain manual yang telah dibuat pada pertemuan pertama menjadi desain digital. Tim pengabdi mendemonstrasikan penggunaan aplikasi Ibis Paint secara langsung, sementara untuk teknik mendesain menggunakan CorelDraw, peserta diarahkan mempelajarinya melalui tautan video di YouTube yang telah disediakan. Luaran dari pertemuan kedua ini berupa desain digital yang telah dilengkapi moodboard dan design brief.
Pertemuan ketiga kembali dilaksanakan secara luring pada 19 Agustus 2026. Kegiatan diawali dengan proses unduh dan instalasi perangkat lunak Look AI, yang didemonstrasikan langsung oleh tim pengabdi agar peserta dapat mempraktikkan konversi desain berbantuan AI. Menjelang akhir pertemuan, sejumlah peserta yang mewakili kelompok diminta mempresentasikan hasil desainnya untuk mendapatkan komentar dan masukan dari tim pengabdi maupun sesama peserta. Pertemuan ketiga ditutup dengan penugasan bagi peserta untuk melengkapi portofolio kerja dalam bentuk lembar kerja.
Meski demikian, pelaksanaan program tidak lepas dari sejumlah kendala. Dari 10 peserta, terdapat satu guru yang sempat tertinggal dalam mengikuti rangkaian tugas, sehingga tim pelaksana berupaya mengejar ketertinggalan tersebut agar peserta bersangkutan dapat mengikuti pertemuan kedua sesuai rencana. Kendala lain muncul dari sisi teknis, yakni keterbatasan versi trial pada beberapa aplikasi AI yang digunakan. Sebagai tindak lanjut, tim pelaksana tengah mencari alternatif aplikasi lain yang lebih kompatibel dan tidak berbayar.
Direspons Positif oleh Peserta
Hasil jajak pendapat singkat yang dihimpun dari para guru peserta menunjukkan sambutan yang positif terhadap pelatihan ini. Sebagian besar peserta menilai pelatihan menjadi ruang untuk menyegarkan kembali pengetahuan mereka dalam membuat desain, baik secara manual maupun digital, sekaligus memperkenalkan wawasan baru tentang cara memvisualisasikan desain dua dimensi menjadi bentuk tiga dimensi menggunakan AI. Selama ini, sejumlah guru mengaku lebih banyak belajar secara mandiri melalui YouTube, mesin pencari, buku, maupun diskusi antarrekan sejawat, sehingga kehadiran pelatihan semacam ini dinilai membuka ruang belajar yang lebih terarah.
Peserta juga menilai materi yang disampaikan runtut, jelas, dan aplikatif untuk langsung diterapkan dalam pembelajaran di kelas masing-masing. Beberapa guru menyoroti manfaat pelatihan dalam menambah kemampuan mengikuti perkembangan teknologi terkini, sekaligus membantu mereka menghasilkan desain busana yang tampak lebih nyata (realistis) berkat bantuan AI.
Guru Berharap Ada Pelatihan Lanjutan
Antusiasme peserta terhadap pelatihan ini juga tecermin dari harapan mereka akan adanya program lanjutan. Berdasarkan jajak pendapat yang sama, topik yang paling banyak diminati untuk pelatihan berikutnya adalah media pembelajaran digital interaktif dan video editing untuk konten pembelajaran, yang masing-masing dipilih oleh 30 persen peserta. Sementara itu, desain 3D tingkat lanjut serta pemanfaatan e-commerce untuk produk fashion masing-masing diminati oleh 20 persen peserta.
Sebaran minat ini menunjukkan bahwa selain memperdalam keterampilan desain berbasis AI, para guru juga tertarik memperluas kompetensi ke aspek penyajian materi ajar yang lebih interaktif serta pemasaran produk busana secara digital, sejalan dengan tujuan program dalam membangun ekosistem pembelajaran yang berkelanjutan.
Dengan progres yang sejauh ini berjalan sesuai tahapan yang direncanakan, program pengabdian ini diharapkan dapat memperkuat kesiapan guru SMK tata busana di DIY dalam mengadopsi teknologi AI untuk mendukung proses belajar-mengajar yang lebih inovatif dan relevan dengan kebutuhan industri.