GUNUNGKIDUL — Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta (PkM FT UNY) sukses mengimplementasikan sistem distribusi air dan irigasi kebun multimode di kebun Kelompok Wanita Tani (KWT) Marsudi Luhur, Padukuhan Kepuh, Pacarejo, Semanu, Gunungkidul. Teknologi ini secara khusus dikembangkan untuk membantu kelompok tani mengelola penyiraman kebun sayur di wilayah karst yang kerap menghadapi keterbatasan pasokan air, terutama saat musim kemarau tiba.
KWT Marsudi Luhur saat ini mengelola lahan kebun sayur seluas kurang lebih 300 meter persegi. Berbagai komoditas ditanam di lahan ini, mulai dari cabai rawit, kacang panjang, kenikir, terong, mentimun, kemangi, hingga kangkung. Sebelum adanya intervensi dari tim PkM, proses penyiraman sangat mengandalkan selang manual dan belum memiliki pembagian jaringan yang mampu menyesuaikan tekanan air dengan kebutuhan masing-masing bagian lahan.
Satu Sistem, Beberapa Mode Penyiraman
Untuk mengatasi kendala tersebut, tim FT UNY merancang sebuah sistem irigasi di mana satu sumber air dapat melayani berbagai kebutuhan secara terpisah dan efisien. Sistem ini dibagi menjadi tiga cabang utama:
Cabang Pertama: Mengalirkan air untuk kebutuhan rumah tangga.
Cabang Kedua: Menyediakan aliran bertekanan rendah melalui empat valve (katup) layanan. Cabang ini ideal digunakan untuk mencuci peralatan, penyiraman ringan, dan kebutuhan umum lainnya.
Cabang Ketiga: Mengalirkan air menuju kebun menggunakan booster pump yang bekerja secara otomatis saat sensor mendeteksi adanya aliran air.
Guna menjaga stabilitas tekanan, jaringan air di area kebun dibagi menjadi empat zona yang melayani sebelas jalur penyiraman. Penyiraman bertekanan tinggi dilakukan secara bergantian (membuka satu zona dan menutup zona lain).
Sistem ini juga dilengkapi mode irigasi tetes (drip). Pada mode ini, sensor aliran dinonaktifkan sehingga air tetap bisa mengalir melewati pompa tanpa harus memicu booster. Karena kebutuhan debit airnya jauh lebih rendah, beberapa zona dapat dibuka secara bersamaan dengan memastikan tetesan di bagian awal, tengah, dan ujung jalur tetap terdistribusi merata.
Pelatihan Komprehensif dan Peningkatan Kapasitas
Penerapan teknologi ini tidak berhenti pada pemasangan alat semata. Tim PkM FT UNY memberikan pendampingan penuh melalui serangkaian kegiatan:
11 Juli 2026: Pembersihan dan persiapan lokasi.
12 Juli 2026: Pemasangan pipa utama.
18 Juli 2026: Pemasangan jalur spray dan drip, dirangkai dengan pelatihan pengoperasian sistem.
25–26 Juli 2026: Pengolahan lahan dan penanaman komoditas.
30 Juli 2026: Observasi tindak lanjut dan evaluasi program.
Pelatihan dirancang interaktif dengan menggabungkan teori, demonstrasi, praktik terbimbing, dan praktik kelompok. Peserta diajarkan fungsi setiap katup, pemilihan mode operasi, perpindahan zona, hingga prosedur penanganan kebocoran dan pembersihan nozzle. Agar mudah dipahami, tim menyiapkan label katup berwarna kontras, infografis alur, dan buku saku sehingga anggota KWT tidak perlu menghafal istilah teknis.
Berdasarkan evaluasi terhadap 21 peserta, program ini mencatatkan capaian yang sangat positif:
Literasi Dasar: Meningkat tajam dari rata-rata 84,13 menjadi 95,63.
Kesiapan Operasional: Naik dari 2,55 menjadi 3,61 (pada skala 4).
Tingkat Kompetensi: Sebanyak 85,7% (18 dari 21 peserta) dinyatakan berada pada kategori kompeten atau sangat kompeten dalam uji praktik.
Kepuasan Peserta: Mencapai angka 3,73 dari skala 4.
Observasi lapangan menunjukkan sistem telah dioperasikan dengan baik untuk penyiraman langsung, spray/sprinkler, dan drip. Anggota KWT juga sudah mulai membagi tugas piket penyiraman secara bergilir dan mampu mendeteksi gangguan awal, seperti nozzle yang tersumbat atau aliran yang belum merata.
Langkah Lanjutan dan Pengukuran Efisiensi
Meski secara kasat mata sistem ini membuat penyiraman lebih terarah dan fleksibel, tim FT UNY tetap berhati-hati dalam mengklaim angka penghematan air. Saat ini, efisiensi secara kuantitatif belum dipublikasikan karena jaringan belum dilengkapi dengan flow meter (pengukur debit) dan pressure gauge (pengukur tekanan). Alat-alat tersebut direncanakan akan dipasang pada tahap berikutnya untuk mengukur kinerja tiap zona dan keseragaman distribusi secara lebih objektif.
Selain itu, evaluasi menunjukkan bahwa pemahaman pengetahuan spesifik masih perlu ditingkatkan, mengingat baru 52,4% peserta yang melampaui batas ketuntasan tes pengetahuan sistem (skor >75). Pendampingan lanjutan akan difokuskan pada pengulangan praktik, pengaturan sensor, pengisian log operasional, dan perawatan sistem.
Kolaborasi untuk Keberlanjutan
Program pengabdian ini didanai melalui Skema PkM Kerjasama Kampung Emas Tahun 2026 (Kontrak No. 56.70/DST/UN34.15/T/PT.01.03/2026) dengan alokasi dana sebesar Rp20 juta dari Fakultas Teknik UNY.
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Dr. Ir. Muhkamad Wakid, S.Pd., M.Eng., didampingi oleh tim dosen yang terdiri dari:
Ir. Dian Eksana Wibowo, S.T., M.Eng., IPM., ASEAN Eng.
Dr. phil. Ir. Muhamad Ali, M.T., IPU., ASEAN Eng.
Dr. Ir. Apri Nuryanto, S.Pd., S.T., M.T.
Program ini juga melibatkan mahasiswa FT UNY, yaitu Aisyah Rohmatunnisa, Atha Fawwaz Rudiyanto, Achmad Novianto, Bima Setya Adi Pratama, dan Abdillah Zaky Arsyad.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah lokal, dan masyarakat ini, diharapkan KWT Marsudi Luhur dapat terus mengelola kebun sayurnya dengan optimal, menjaga keberlanjutan teknologi irigasi, dan menjadi percontohan bagi kelompok tani lain di kawasan karst Gunungkidul yang memiliki tantangan serupa.